Langsung ke konten utama

Keberanian Kader HMI Cabang Jakarta Mempertahankan Sejengkal Tanah Dari PKI


 Di bawah pemerintahan Soekarno, perayaan hari proklamasi berupa pidato kenegaraan (dari Presiden Soekarno) kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan dari ormas-ormas (organisasi massa) yang berbaris membawah bendera masing-masing melewati podium dengan Presiden Soekarno berdiri didampingi oleh sejumlah menteri dan panglima-panglima angkatan.

 Podiumnya bukanlah diteras istana merdeka, melainkan dibangun secara khusus ditrotoar didepan istana, sehingga barisan-barisan yang berbaris di jalan merdeka utara akan melihat dan menatap wajah Bung Karno yang berdiri di podium.

 Dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1965, HMI bertekad untuk turut serta dalam arak-arakan ormas-ormas yang nantinya akan dilihat oleh Presiden Soekarno dan para pejabat tinggi lainnya. Beberapa hari sebelum tanggal 17, Ekky Syahruddin sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta, menghubungi panitia perayaan untuk meminta jatah kavling bagi ormas yang akan ikut serta dalam arak-arakan. Setiap ormas dibatasi pesertanya sebanyak 50 orang. Sebelum jam 07.00 pagi, setiap barisan ormas yang ikut arak-arakan harus sudah berkumpul di lapangan di seberang MBAD (Markas Besar Angkatan Darat, sekarang termasuk lapangan monas). Setiap kavling akan ditempati oleh setiap barisan sebelum arak-arakan bergerak, luasnya kurang-lebih 2 m x 15 m persegi.

  Eky telah menerima nomor kavling dari panitia. Rupanya Eky cukup waspada bahwa kavling itu harus dijaga agar tidak diserobot oleh ormas lain yang tidak suka kalau HMI ikut serta dalam arak-arakan memperingati hari kemerdekaan. Sehari sebelum tanggal 17, Eky menengok kavling yang sudah diperuntukkan HMI ternyata sudah ada nama ormas lain yang akan menempati kavling tersebut. Eky bukanlah Eky kalau kemudian diam saja melihat kavling HMI diserobot. ia lalu mencabut papan nama ormas yang termasuk ormas PKI dan memasang papan nama HMI.

  Kemudian Eky memanggil beberapa aktivis HMI untuk menjaga papan nama HMI. Penjagaan kavling HMI itu berjalan kurang lebih 18 jam, yaitu sejak tanggal16 siang sampai tanggal 17 pagi. Eky spesial memerintahkan kepada anggota barisan HMI untuk datang pagi-pagi benar, kira-kira jam 06.00 pagi. Jadi mendahului datangnya, barisan dari ormas-ormas lain. Mengapa barisan HMI harus datang 1 jam sebelum waktu yang ditetapkan panitia, yaitu jam 07.00 pagi, ialah demi sikap pada jangan sampai kavling diserobot oleh barisan ormas PKI.

  Kepada Eky saya (A. Dahlan Ranuwihardjo) beritahukan bahwa pada saat perayaan tersebut, saya akan berupaya untuk duduk di deretan kursi untuk anggota DPR GR yang berada di depan atau dekat dengan tempat duduk Bung Karno di podium. Pada saat arak-arakan mulai bergerak, saya terus melihat kalau barisan HMI dengan benderanya sudah mulai kelihatan. Sementara itu saya sudah membisiki pada rekan-rekan anggota DPR GR yang bersimpati pada HMI dan juga kepada beberapa menteri yang duduk di podium agar nanti kalau barisan HMI lewat mereka memberi tepuk tangan.

 Serentak dari kejauhan saya melihat bahwa barisan HMI dan benderanya yang di pimpin Eky sudah mendekat ke podium tempat Bung Karno berdiri, saya pun berdiri menyampaikan bahwa barisan HMI akan lewat. Beberapa meter sebelum barisan HMI berada persis di depan podium, dengan agak berteriak saya menyampaikan ke Bung Karno dengan setengah berteriak, "Pak.. itu barisan HMI akan lewat". Bung Karno tersenyum dan manggut-manggut. Persis setelah barisan HMI berada di depan podium, Bung Karno menerima salam dari barisan HMI sambil bertepuk tangan diikuti oleh beberapa menteri dan sejumlah anggota DPR GR. Dan tentu saja, sayalah yang bertepuk tangan paling keras dan berteriak, "Hidup HMI!! ", yang juga diikuti oleh beberapa anggota DPR GR sahabat saya.

  Itu adalah saat yang indah dalam hidup saya (A. Dahlan Ranuwihardjo) menyaksikan Eky dan 50 anggota HMI yang berbaris tegap, yang didahului oleh sikap gagah berani mempertahankan sejengkal tanah 2x15 meter persegi, sehingga akhirnya HMI benar-benar dirasakan kehadirannya oleh Presiden Soekarno dan para menteri dan anggota DPR GR serta oleh rakyat yang berdiri berdesak-desakan diseberang podium menyaksikan arak-arakan dan turut memberikan tepuk tangan bagi barisan HMI. Bravo Eky dan HMI Cabang Jakarta.

#YakinUsahaSampai

Sumber Foto: www.rmolbanten.com

Sumber Buku: Bung Karno dan HMI Dalam Pergulatan Sejarah. Mengapa Bung Karno Tidak Membubarkan HMI.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemikiran Anas Urbaningrum: HMI Harus Mereformasi Diri

 Pendapat ini disampaikan Anas Urbaningrum sebagai konsep jabatannya ketika diadakan pelantikan PB HMI periode 1997-1999 dan serah terima jabatan tanggal 27 September 1997. Walaupun dikatakan bahwa pemikiran ini merupakan visi HMI 2 tahun kedepan, yang perlu disahuti kader HMI agar organisasi ini senantiasa solid menghadapi tantangan zaman yang terus bergejolak. Namun nampaknya pemikiran yang disampaikan Anas Urbaningrum tersebut masih relevan untuk menjadi wacana untuk membangun kembali citra HMI      Anas Urbaningrum berpendapat bahwa dari kacamata sosiologis, posisi sosial HMI kini sedang tinggi. Ini lantaran ditopang pilar-pilar yang kokoh, salah satunya berupa kiprah dan peran alumninya. Namun ironisnya gemerlap prestasi sosial itu justru di ikuti menurunnya gradasi HMI pada berbagai dimensinya.    Saat ini HMI tengah gencar-gencarnya menerima kritik. Berbagai ragam kritik itu jika disarikan mengerucut pada pada 3 hal. Pertama, macetny...

Kemunduran HMI: Menurunnya Jumlah Mahasiswa Yang Masuk HMI

   Komisariat sebagai ujung tombak HMI, seharusnya dapat memperoleh anggota baru setiap tahun ajaran baru sebanyak 1/2+1 dari mahasiswa baru yang memasuki fakultas. Sebagai perbandingan, HMI Cabang Jakarta pada tahun 1966-1967 satu kali angkatan Maperca (masa perkenalan calon anggota) diikuti 7500 mahasiswa. Ketika itu ada 3 angkatan maperca, berarti anggota baru HMI Cabang Jakarta pada tahun tersebut sebanyak 22500 orang. HMI Cabang Yogyakarta melaksanakan maperca 3 angkatan, masing-masing 2500 mahasiswa, berarti anggota baru HMI Cabang Yogyakarta pada tahun 1966-1967 sebanyak 7500 orang.    Mahasiswa adalah sumber potensi untuk diolah menjadi anggota HMI, dan akhirnya diolah menjadi kekuatan. Anggota adalah sumber kader, dan kader adalah calon pengurus. Kalau anggota dan pengurus tidak ada, maka dua unsur organisasi tidak terpenuhi, berarti organisasi tidak bisa berdiri.    Salah satu imbas positif kalau anggota HMI itu banyak, bahwa semakin...